40 Pengurus OSIS dan Pramuka SMP N 18 Tegal Dilatih Menulis

Sebanyak 40 pengurus OSIS, Dewan Penggalang dan Pramuka SMP Negeri 18 Kota Tegal dilatih jurnalistik pada Rabu, 30 Maret 2022. “Untuk menjadi wartawan dibutuhkan skill dan ilmu menulis yang baik. Setelah pelatihan semoga bisa diterapkan di media sekolah”, kata Ratomo (Waka Kesiswaan).

Selama pelatihan, siswa diberi dua materi. Materi pertama tentang jurnalistik umum dan kedua jurnalisme sastra. Dengan kedua materi tersebut diharapkan dapat menambah wawasan siswa. Untuk pemateri ada dua, yakni Wawan Setiawan (Wapimred Koran Radar Tegal) dan Meiwan Dani Ristanto (Wartawan Radar). “Semoga pelatihan ini dapat memberikan ilmu yang bermanfaat bagi semuanya”, ungkapnya.

Sementara itu, Wawan Setiawan (Wapimred Radar Tegal) selain memberikan motivasi juga menjelaskan tentang jurnalistik secara umum. Sehingga siswa dapat membedakan berbagai macam berita, termasuk mampu menangkal informasi bohong (berita hoaxs). “Semoga dengan pelatihan para siswa tercerahkan,” katanya. (mei/wan)

PENTINGNYA KEMAMPUAN NONTEKNIS BAGI GURU DALAM ADAPTASI TEKNOLOGI

SMP N 18 TEGAL – Ada hal-hal yang menarik manakala mengikuti program guru belajar dan berbagi yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, program guru belajar dan berbagi dilaksanakan dalam beberapa tahap serta dapat diikuti oleh semua guru dari berbagai jenjang, kepala sekolah, pengawas juga para pemerhati pendidikan.

Seperti kita ketahui bersama bahwa sejak pandemi covid -19 melanda Indonesia, semua aktivitas manusia terganggu dan terhambat mulai dari pekerjaan, interaksi sosial di masyarakat, sampai dengan pada proses belajar mengajar. Tidak hanya guru, siswa, dosen, mahasiswa, para orangtua pun harus ikut terlibat dalam proses pembelajaran. Hal ini harus dilakukan agar kita dapat menjaga diri dari potensi terjangkit atau tertularnya virus dan memutus rantai penularan virus corona dan pembelajaran tetap dapat berjalan.

Untuk dapat mendukung proses pembelajaran di masa pandemi covid-19 tetap berlangsung  baik secara daring maupun tatap muka maka perlu dituntut untuk dapat beradaptasi dan melakukan terobosan agar dapat  bermanfaat dalam situasi seperti ini.

Salah satu terobosan yang dilakukan oleh guru adalah dengan mengasah kemampuan nonteknis dalam adaptasi teknologi. Ada beberapa materi yang dapat menambah wawasan kita dalam mengasah kemampuan nonteknis kita anatara lain;

Pertama,  Resilience: tangguh dan teknologi yang mempelajari tentang kerangka SAMR (substitution, augmentation, modification,redefinition) dalam proses menuju e-larning yang efektif. SAMR merupakan kerangka yang menggambarkan tingkat kematangan seseorang memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran. Semakin matang sesorang dalam memanfaatkan teknolgi dalam pembelajaran, semakin besar peningkatan proses dan hasil yang terjadi dalam pembelajaran.

Kedua,  Critical thinking: berpikir kritis dan teknologi yang mengajarkan teknik latihan berpikiran kritis “saya jadi sadar, saya jadi terpikir” yang terdiri dari dua komponen yaitu pertama, observasi yang diwujudkan dalam pernyataan “Saya baru sadar bahwa…”, kedua insight  yang diwujudkan dalam pernyataan” Saya jadi terpikir bahwa atau jangan-jangan atau pantas …”,

Ketiga,  Creativity: Konten dan teknik penceritaan, setiap guru adalah pembuat konten karena mempunyai kemampuan menyampaikan gagasan atau ide secara lisan maupun tulisan yang mengisahkan tentang perbuatan dan seorang guru dapat membuat konten dengan teknik penceritaan yang mempunyai tiga unsure yang saling berhubungan yaitu dampak, komunikasi dan persuasi.

Keempat, Communication: kemampuan komunikasi efektif  pada materi ini terdapat kunci komunikasi efektif yaitu empati. Komunikasi efektif denga empati sangat penting untuk menciptakan hubungan baik untuk mencapai tujuan bersama, baik dalam hubungan perorangan (personal maupun pekerjaan (professional). Dalam situasi pandemi dimana manusia tidak boleh berinteraksi atau bertemu dengan orang lain, maka dibutuhkan sebuah metode komunikasi yang sesuia dengan hubungan akan tetap terjalin. Dalam hal ini teknologi sangat berperan sebagai alat yang menghubungkan interaksi sosial di kelas, baik PTM maupun PJJ.

Kelima, Empowered teacher: Penerapan kelas campuran yaitu penggunaan kelas campuran untuk menjawab permasalahan pembelajaran khususnya untuk menghadapi tantangan pandemic covid-19. Kelas Campuran adalah kelas yang menerapkan pembelajaran campuran sehingga murid mendapatkan pengalaman belajar yang optimal. Dengan mengadaptasi konsep dari Catlin R. Tucker dkk (2017) maka Bukik Setiawan (2021) mendefinisikan Pembelajaran Campuran (Blended Learning) sebagai program pendidikan yang memfasilitasi murid belajar dengan memenuhi 4 ciri ini yaitu 1) Setidaknya mengikuti pembelajaran asinkron yang memungkinkan murid merdeka mengatur waktu, tempat, alur dan tempo belajarnya;2) Setidaknya mengikuti pembelajaran sinkron dengan pendampingan guru pada suatu waktu dengan moda belajar tertentu; 3) Menghubungkan beragam modalitas program/mata pelajaran menjadi suatu pengalaman belajar terintegrasi; 4) Membantu murid menjadi pelajar merdeka belajar (komitmen pada tujuan, mandiri pada cara dan reflektif) dalam mencapai sasaran belajar yang disepakatinya. (Sumber: Seri Guru Belajar Kemdikbud)

Keenam, Collabotarion: kolaborasi dan dampak, setelah menguasai teknik-teknik di atas maka seorang guru harus dapat menerapkan kemampuan nonteknisnya dengan berkolaborasi dengan memaksimalkan sumber daya, asset, kekuatan, potensi, dan kompetensi yang ada pada diri dan lingkungan di sekitar kita. Seorang guru harus berusaha bersama dalam memperluas dampak materi demi meningkatnya pelayanan pembelajaran kepada para siswa sehingga kualitas pendidikan Indonesia semakin maju dan berkembang.

Oleh:  Fahruroji, M. Pd.

(Kepala SMP Negeri 18 Kota Tegal)

TANTANGAN GURU MILENIAL DALAM MELAKSANAKAN PENDIDIKAN  JARAK JAUH DI ERA PANDEMI

SMP N 18 TEGAL – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menerbitkan Surat Edaran Nomor 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan  Belajar Dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19 dari, Dalam Surat Edaran disebutkan bahwa tujuan dari pelaksanaan Belajar Dari Rumah (BDR) adalah memastikan pemenuhan hak peserta didik untuk mendapatkan layanan pendidikan selama darurat Covid-19, melindungi warga satuan pendidikan dari dampak buruk Covid-19, mencegah penyebaran dan penularan Covid-19 di satuan pendidikan dan memastikan pemenuhan dukungan psikososial bagi pendidik, peserta didik, dan orang tua.

Dalam rangka mengimplementasikan SE Kemendikbud nomor 15 tahun 2020 ini, PB PGRI dan Mahir Academy Rumah Perubahan menyelenggarakan Webinar dan Workshop Berseri Online Self Driving For Teacher: “Guru Daring Milenial Indonesia” dari tanggal 2 – 20 Mei 2020.

Materi-materi yang disampaikan dalam webinar tersebut antara lain: Self Driving for Teacher, Pendidikan Jarak jauh, Digital Literacy, Mobile Learning, E-learning Design, Learning Management System, Online Evaluation, Virtual Calssroom, Edutainment dan masih banyak yang lain sangat menginspirasi dan menggugah daya kreativitas guru-guru di seluruh Indonesia. 

Sebagai guru tentulah semua ingin mencoba dan menerapkan contoh – contoh pembelajaran berbasis teknologi itu. Namun, kembali tersadar dengan kondisi riil di lapangan dengan minimnya sarana prasarana, ribetnya guru mengurusi administrasi membuat guru sibuk dengan tagihan administrasi yang menumpuk, sehingga kreativitas dalam pembelajaran menjadi tersendat. 

Masa Pandemi Covid-19 menjadikan guru maupun siswa mengubah segalanya. Tidak pernah dibayangkan bahwa pembelajaran akan benar-benar 100% berbasis IT. Kalau sebelumnya, keterbatasan kemampuan IT seorang guru tidak terlalu menjadi masalah, namun pada masa ini secara tiba-tiba banyak guru dituntut untuk segera menyesuaikan diri agar kegiatan pembelajaran tetap berjalan. Tak pandang bulu guru tua dan muda, bahkan guru yang menjelang purna pun dituntut untuk belajar IT. Guru yang yang semula masih mempertahankan pembelajaran konvensional dengan selalu menjelaskan di depan siswa dengan menggunakan papan tulis, saat ini dipaksa harus mengubah cara mengajarnya. Siswa yang selama ini masih dimaklumi atas keterbatasan sarana prasarana belajarnya yang  berupa laptop, handphone, dan akses internet, harus segera dicarikan solusinya.

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) adalah suatu keniscayaan, siswa dipantau. seberapa banyak siswa yang belum bisa aktif mengikuti pembelajaran, segera dicari informasi penyebabnya. Jika disebabkan karena motivasi belajar siswa yang kurang (sedikit malas), maka hal ini menjadi ranah guru BK untuk membangunkannya. Jika disebabkan karena kebosanan dengan metode mengajar guru, maka Guru IT di sekolah dengan intens mengadakan pelatihan daring bagi seluruh guru, agar semua dapat melaksanakan PJJ dengan kualitas yang semakin meningkat. Antar guru pun terjadi diskusi untuk saling berbagi ilmu serta bersama-sama memecahakn masalah yang dihadapi.

Jika disebabkan karena keterbatasan fasilitas dan kemampuan orangtua, siswa diberi bantuan handphone, meski sifatnya dipinjami.

Adanya workshop Guru Daring  Milenial yang diselenggarakan PB PGRI, merupakan salah satu program yang sangat membantu bagi guru untuk meningkatkan kompetensinya, terutama agar tidak gagap dengan keadaan yang memaksa guru harus berlari dalam meningkatkan kualitas mengajarnya, terutama pembelajaran jarak jauh.

Selain kemampuan mengajar jarak – jauh, dalam workshop ini guru juga akan menemukan bagaimana seharusnya guru menghadapi siswanya yang merupakan generasi milenial. 

Tantangan guru saat ini tidak hanya pada masalah pengajaran, tetapi juga pada masalah pendidikan karakternya. Jika guru tidak banyak belajar, tentu akan kesulitan dalam memasukkan muatan pendidikan karakter siswa, terutama saat tidak bisa berinteraksi langsung dengan siswa.

Semoga dengan mengikuti  Webinar dan Workshop Berseri Online Self Driving For Teacher: “Guru Daring Milenial Indonesia”  ini, banyak inspirasi dan gagasan muncul untuk memperbaiki proses pembelajaran jarak jauh saat ini, terlebih dapat meningkatkan kualitas pendidikan pada masa yang mendatang. Semoga setelah pandemi Covid -19 ini berakhir, ada perubahan kebijakan tentang penyederhanaan administrasi pembelajaran, termasuk penilaian K13 dan juga laporan agar bisa fokus untuk meningkatkan pelayanan kepada peserta didik agar lebih maksimal, ada waktu untuk meningkatkan keprofesionalannya di bidang IT.

Oleh : Fahruroji, M. Pd.

Kepala SMP Negeri 18 Kota Tegal

MENYIASATI PEMBELAJARAN IPS AGAR MENYENANGKAN

SMP N 18 TEGAL – Sebagai mata pelajaran yang komprehensif dan memiliki cakupan materi cukup luas, IPS memang mata pelajaran yang sering disepelekan oleh peserta didik. Peserta didik atau yang disebut siswa berpandangan bahwa mata pelajaran IPS hanyalah sekadar teori-teori yang hanya melekat sementara di otak. Akibatnya mata pelajaran ini dianggap kurang menarik dan membosankan.

Namun demikian, ternyata tidak hanya mata pelajaran IPS saja yang memiliki tantangan seperti itu. Sebut saja seperti Seni Budaya, PKn, Prakarya dan lain sebagainya. Tantangan ini harus kita sikapi dengan bijak, jangan sampai melemahkan semangat para pendidik down mental. Oleh karena itu, perlu kiranya kita mengubah pandangan peserta didik dengan mengubah pola pembelajaran biasa menjadi pola pembelajaran yang aktif, kreatif, edukatif, dan menyenangkan.

Selama ini penggunaan metode ceramah lebih dominan dalam proses pembelajaran IPS. Kondisi seperti ini mungkin yang menyebabkan siswa beranggapan bahwa pelajaran IPS membosankan dan tidak menarik. Pandangan siswa ini muncul karena selama proses pembelajaran siswa tidak dilibatkan secara langsung dan siswa cenderung hanya mendengarkan penjelasan guru.

Pengubahan pola mengajar ini agar siswa benar-benar tidak selalu hanya mendengarkan saja saat menerima materi pelajaran. Kreativitas guru dan kemampuan guru untuk mengubah menjadi pembelajaran yang berbeda. Hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan strategi dan teknik mengajar yang tidak melulu dengan ceramah.

Dalam hal ini terlebih dahulu seorang guru IPS harus mampu mengubah mindset atau pola pikirnya. Sehingga mampu pula mengubah pola mengajarnya. Ada beberapa hal yang harus dipahami guru saat ini. Pertama, guru adalah sebagai fasilitator. Jadi bukan saatnya lagi guru mencerek dan peserta didik mencawan dalam pembelajaran. Peserta didik harus diberi kesempatan merekonstruksi pengetahuannya. Pendekatan konstruktivisme lebih pas digunakan. Sebab guru dapat mengkonstruksi pengalaman peserta didik. Proses belajar dilakukan bersama-sama antara guru dan peserta didik.  Kedua, mengubah pola pembelajaran dari teacher centre ke student centre. Peserta didiklah yang diharapkan lebih aktif dalam pembelajaran. Ketiga, mengubah pola pembelajaran konvensional seperti ceramah, diskusi biasa dan lain sebagainya ke pembelajaran modern, yang dikenal dengan pembelajaran abad 21. Keempat, memanfaatkan IT dalam pembelajaran.

Dengan mengubah pola pembelajaran ini siswa menjadi lebih aktif dan pembelajaran akan menjadi lebih menyenangkan.

Oleh : Urip Fitriati, S.Pd.

Guru Mata Pelajaran IPS di SMP Negeri 18 Tegal