PENTINGNYA KEMAMPUAN NONTEKNIS BAGI GURU DALAM ADAPTASI TEKNOLOGI

SMP N 18 TEGAL – Ada hal-hal yang menarik manakala mengikuti program guru belajar dan berbagi yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, program guru belajar dan berbagi dilaksanakan dalam beberapa tahap serta dapat diikuti oleh semua guru dari berbagai jenjang, kepala sekolah, pengawas juga para pemerhati pendidikan.

Seperti kita ketahui bersama bahwa sejak pandemi covid -19 melanda Indonesia, semua aktivitas manusia terganggu dan terhambat mulai dari pekerjaan, interaksi sosial di masyarakat, sampai dengan pada proses belajar mengajar. Tidak hanya guru, siswa, dosen, mahasiswa, para orangtua pun harus ikut terlibat dalam proses pembelajaran. Hal ini harus dilakukan agar kita dapat menjaga diri dari potensi terjangkit atau tertularnya virus dan memutus rantai penularan virus corona dan pembelajaran tetap dapat berjalan.

Untuk dapat mendukung proses pembelajaran di masa pandemi covid-19 tetap berlangsung  baik secara daring maupun tatap muka maka perlu dituntut untuk dapat beradaptasi dan melakukan terobosan agar dapat  bermanfaat dalam situasi seperti ini.

Salah satu terobosan yang dilakukan oleh guru adalah dengan mengasah kemampuan nonteknis dalam adaptasi teknologi. Ada beberapa materi yang dapat menambah wawasan kita dalam mengasah kemampuan nonteknis kita anatara lain;

Pertama,  Resilience: tangguh dan teknologi yang mempelajari tentang kerangka SAMR (substitution, augmentation, modification,redefinition) dalam proses menuju e-larning yang efektif. SAMR merupakan kerangka yang menggambarkan tingkat kematangan seseorang memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran. Semakin matang sesorang dalam memanfaatkan teknolgi dalam pembelajaran, semakin besar peningkatan proses dan hasil yang terjadi dalam pembelajaran.

Kedua,  Critical thinking: berpikir kritis dan teknologi yang mengajarkan teknik latihan berpikiran kritis “saya jadi sadar, saya jadi terpikir” yang terdiri dari dua komponen yaitu pertama, observasi yang diwujudkan dalam pernyataan “Saya baru sadar bahwa…”, kedua insight  yang diwujudkan dalam pernyataan” Saya jadi terpikir bahwa atau jangan-jangan atau pantas …”,

Ketiga,  Creativity: Konten dan teknik penceritaan, setiap guru adalah pembuat konten karena mempunyai kemampuan menyampaikan gagasan atau ide secara lisan maupun tulisan yang mengisahkan tentang perbuatan dan seorang guru dapat membuat konten dengan teknik penceritaan yang mempunyai tiga unsure yang saling berhubungan yaitu dampak, komunikasi dan persuasi.

Keempat, Communication: kemampuan komunikasi efektif  pada materi ini terdapat kunci komunikasi efektif yaitu empati. Komunikasi efektif denga empati sangat penting untuk menciptakan hubungan baik untuk mencapai tujuan bersama, baik dalam hubungan perorangan (personal maupun pekerjaan (professional). Dalam situasi pandemi dimana manusia tidak boleh berinteraksi atau bertemu dengan orang lain, maka dibutuhkan sebuah metode komunikasi yang sesuia dengan hubungan akan tetap terjalin. Dalam hal ini teknologi sangat berperan sebagai alat yang menghubungkan interaksi sosial di kelas, baik PTM maupun PJJ.

Kelima, Empowered teacher: Penerapan kelas campuran yaitu penggunaan kelas campuran untuk menjawab permasalahan pembelajaran khususnya untuk menghadapi tantangan pandemic covid-19. Kelas Campuran adalah kelas yang menerapkan pembelajaran campuran sehingga murid mendapatkan pengalaman belajar yang optimal. Dengan mengadaptasi konsep dari Catlin R. Tucker dkk (2017) maka Bukik Setiawan (2021) mendefinisikan Pembelajaran Campuran (Blended Learning) sebagai program pendidikan yang memfasilitasi murid belajar dengan memenuhi 4 ciri ini yaitu 1) Setidaknya mengikuti pembelajaran asinkron yang memungkinkan murid merdeka mengatur waktu, tempat, alur dan tempo belajarnya;2) Setidaknya mengikuti pembelajaran sinkron dengan pendampingan guru pada suatu waktu dengan moda belajar tertentu; 3) Menghubungkan beragam modalitas program/mata pelajaran menjadi suatu pengalaman belajar terintegrasi; 4) Membantu murid menjadi pelajar merdeka belajar (komitmen pada tujuan, mandiri pada cara dan reflektif) dalam mencapai sasaran belajar yang disepakatinya. (Sumber: Seri Guru Belajar Kemdikbud)

Keenam, Collabotarion: kolaborasi dan dampak, setelah menguasai teknik-teknik di atas maka seorang guru harus dapat menerapkan kemampuan nonteknisnya dengan berkolaborasi dengan memaksimalkan sumber daya, asset, kekuatan, potensi, dan kompetensi yang ada pada diri dan lingkungan di sekitar kita. Seorang guru harus berusaha bersama dalam memperluas dampak materi demi meningkatnya pelayanan pembelajaran kepada para siswa sehingga kualitas pendidikan Indonesia semakin maju dan berkembang.

Oleh:  Fahruroji, M. Pd.

(Kepala SMP Negeri 18 Kota Tegal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *